Neti Sugiarti

Diusia yang tak muda lagi namun belum begitu tua, saya ingin belajar menulis apa saja yang terlintas dipikiran sambil makan cemilan. ...

Selengkapnya
“Kenalkan anak pada lingkungan sekitar kita”

“Kenalkan anak pada lingkungan sekitar kita”

“Bukan kah kita lebih senang anak kita tahu siapa Presiden Amerika Serikat, dibandingkan mengenal siapa nama Ketua RT setempat?” ungkap Siti Wachdiah, M.A., Ph.D Dosen Universitas Negeri Jakarta dalam seminar “Nasional English Seminar Curriculum 2013” di Gd. Rektorat Universitas Siliwangi, menohok ulu hati saya waktu itu.

Saya hanya berkaca pada diri saya sendiri, bukankah itu saya? Bayangkan kita selalu merasa lebih bangga ketika anak kita memiliki gadjet, tablet, play station, mempunyai akun FB, Twitter, tahu banyak tentang nama-nama artis dan pesohor negeri, meskipun tidak ada yg salah dengan hal itu. Tapi pernah kah kita bangga ketika anak kita bermain tanah dengan teman-teman di belakang rumah, bermain petak umpet, enggrang, bermain air di sawah, hafal nama-nama keluarga tetangga kita dan mengenal lingkungan sekitar. Bangga dengan anak yang peduli lingkungan dan selalu menjaga kebersihan lingkungan.

Saya ingat ketika saya masih kecil, Ayah saya selalu mengajarkan hal yang tidak saya ajarkan belakangan ini. Saya di suruh menghapal nama-nama Menteri dalam kabinet, nama Gubernur dan wakil, Bupati dan wakil, Camat dan wakil, Kepala desa sampai nama RT tempat saya tinggal, beliau juga sering menceritakan asal muasal daerah kami dan silsilah di keluarga dari mulai buyutnya buyut yang mereka ketahui. Beliau juga selalu mengajak saya ke ladang, sawah, bahkan ke tempat-tempat yang sangat jauh dan kotor sekalipun untuk mengenalkan saya dengan lingkungan dan alam sekitar.

Memori saya kembali mengingat sekitar 25 tahun yang lalu. Waktu itu saya selalu di ajak menemui keluarga yang ada dibawah kaki Gunung Raja Cikatomas Tasikmalaya, entah berapa jam perjalanan yang harus kami tempuh melewati sungai Ciwulan memakai rakit, berjalan menyusuri bukit, naik turun dan jalanan terjal, kami juga selalu berhenti di tengah perjalanan sekedar untuk melepas haus, kami mengambil kelapa muda dari kebun saudara, dan apapun makan yang bisa mengganjal perut. Tanpa saya sadari sebenarnya itulah pendidikan karakter yang sesungguhnya yang orangtua saya ajarkan kepada saya.

Bagaimana dengan kita sebagai orang tua di zaman ini, bukankah kita (saya ) lebih senang ketika anak menghabiskan waktu di Mall? Kita kadang lebih senang mengupload photo anak kita ketika sedang berdiri di Mall atau sedang duduk di depan meja yang ada logo restaurant fast food. Lebih bangga lagi ketika mereka bermain di wahana air yang paling modern dibanding mereka sedang dikolam ikan mencari ikan-ikan kecil. Alasannya sama di kolam ikan itu airnya kotor dan hitam, bisa menyebabkan penyakit, baru anak kita mau turun ke kolam saja mata kita sudah melotot. Sedangkan kalo di Waterboom airnya bersih dan jernih, anak kita bermain seharianpun tidak masalah.

Sama halnya seperti Ibu Siti Wahdiach, saya hanya ingin berbagi dan memulai kekeliruan dalam mendidik putra-putri tercinta kita. Mulailah kenalkan anak dengan lingkungan sekitar, mereka harus tahu siapa nama RT/RW setempat, berapa orang keluarganya siapa saja nama-nama tetangganya. Anak juga harus diajarkan penanganan bencana dilingkungan sekitarnya. Jika terjadi tindak kejahatan disekitar rumah kemana mereka harus meminta pertolongan. Jika perlu anak harus tahu berapa rumah yang ada di sekitar rumah kita dan pastikan anak mengenal anggota keluarga mereka. Biarkan anak mengenal lingkungan sekitar tempat tinggal kita seperti tempat ibadah, ketika kita punya mobil atau motor, sekali-kali biarkan anak kita berjalan menyusuri jalan-jalan atau gang, sawah, kebun atau gedung bertingkat yang ada dilingkungan kita tentunya harus tetap dibawah pengawasan kita sebagai orang tua.

Anak harus mengenal dunia internet untuk menambah wawasan tapi dunia permainan tradisional anak juga harus kita kenalkan. Anak harus mengenal mall, waterboom dan tempat permainan modern, tapi kenalkan pula tempat-tempat seperti kebun dan sawah. Anak perlu berbelanja kebutuhan hidupnya, tapi ajarkan pula mereka untuk bersedekah. Anak perlu menonton televisi untuk menambah wawasan, tapi kenalkan juga kepada mereka kehidupan warga sekitar yang kurang mampu agar mereka melihat langsung potret kehidupan yang sesungguhnya dengan harapan mereka lebih pandai bersyukur. Anak perlu banyak membaca buku, tapi Alqur’an tetap harus menjadi bahan bacaan paling utama untuk pedoman hidupnya.

Zaman akan berubah sesuai masanya dan tidak ada yang salah dengan zaman. Kita tidak perlu melihat sisi hitam atau putihnya. Kita bisa melihat dari sisi pelangi yang indah dan warna warni. Ini bukti otentik kalau saya juga baru memulai menerapkan pendidikan karakter pada anak saya. Tidak ada kata terlambat mulailah dari sekarang.

#Tetap jadi Ibu kreatif yah

#Tasikmalaya, 13-03-2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali